Tuesday, June 14, 2011

mami :*

aku tidak menangis sewaktu papi minta maaf malam itu. aku tidak menangis sewaktu memeluk papi malam itu. aku tidak menangis sewaktu memilih foto mami pagi itu. aku tidak menangis sewaktu kotak coklat bertulis nama mami itu dipaku salib rapat-rapat. aku tidak menangis sewaktu harus kembali ke bogor. aku tidak menangis sewaktu harus meninggalkan papi dan adikku di semarang. aku tidak menangis sewaktu menceritakan kejadiannya pada teman-teman. aku tidak menangis sewaktu harus ujian tanpa memulainya dengan sms mami. aku tidak menangis sewaktu mengingat mami sore ini.
justru...
aku menangis sewaktu harus pulang ke semarang untuk mengucapkan selamat jalan untuk mami. aku menangis sewaktu harus melihatnya tidur dalam kotak itu. aku menangis sewaktu harus mengelus wajahnya yang dingin dan kaku. aku menangis sewaktu Pastor mengatakan kebaikan mami. aku menangis sewaktu melihat papi menyembunyikan kesedihan dibalik tawanya dengan teman-teman pramukanya. aku menangis sewaktu melihat adikku yang harus berangkat ujian tanpa susu buatan mami. aku menangis sewaktu melihat papi tidur sendiri malam itu. aku menangis sewaktu papi menceritakan kisah romantisnya selama 21 tahun bersama cinta sejatinya. aku menangis sewaktu papi menyemangatiku untuk belajar. aku menangis sewaktu papi mendoakanku untuk sukses ujian. aku menangis sewaktu melihat papi menyemangati dirinya sendiri. aku menangis sewaktu harus pulang lagi ke semarang tanpa mami yang menjemputku di simpang lima.
aku menangisi diriku sendiri saat menulis postingan ini. menangisi diriku yang tidak pernah menyatakan sayangku ke mami dengan kata-kata, bahkan sampai raga mami menjadi abu.
aku menangisi diriku sendiri karena tidak bisa menangis pada orang lain.
aku menangisi diriku sendiri karena bahkan tidak bisa menangis pada pacarku yang kuanggap cinta sejatiku.
aku menangisi diriku sendiri sampai ia merasa tidak dianggap.
aku benci berbagi kesedihan.
tulisan ini bukan untuk membagi kesedihanku. ini hanya catatan yang kubuat dengan emosi.
maaf mam.. maaf pap.. banyak yang harusnya mami papi tahu tapi tidak pernah aku ceritakan.
sebenarnya aku sudah merancang banyak cerita untuk mami saat aku pulang liburan uas, tapi semua sudah hilang. aku yakin mami sudah tahu semuanya dari sana. aku bahkan merasaa mami masih melindungiku.

maaf de.. maaf cici tidak bisa jadi mami. maaf cici tidak bisa jadi kakak yang baik. maaf cici tidak bisa menemani dede belajar untuk ujian akhir. cici yakin dede bisa. yakinlah mami merestui dede.

maaf co.. maaf aku tidak bisa menumpahkan air mataku di pelukanmu. itu akan membuat aku makin merasa bersalah. maaf aku tidak pernah menuangkan isi hatiku. tapi percayalah, aku akan dampingi kamu sampai akhir hidupku, seperti mami...

Wednesday, June 1, 2011

A Promise

janji . promise . belofte . premtim . lubadus . pangako . promesse . versprechen .

akhirnya setelah sekian lama, aku kembali menulis di halaman blog ini. alasan pertama karena sudah tidak ada tempat cerita, jadi ya menulis saja. alasan kedua karena aku berpikir aku harus menuangkan sedikit isi hatiku pada orang lain (walau mungkin ga ada yang baca blog ini).

tiba-tiba muncul lagi kata 'janji' dalam benakku. sebuah janji ketika aku masih bersamanya, tepatnya ketika aku masih bisa berkata "kamu milikku". janji yang begitu indah terucap dari hati manusia untuk saling menjaga dan memiliki sampai akhir hayat.
tapi sepertinya waktu tak kenal toleransi , ia terus mengikis pondasi cinta itu melalui jarak yang begitu panjang dan terjal. aku pikir aku mampu, salah... aku pikir kami mampu. ternyata salah juga... hati dan pikiranmu tidak sekuat fisikmu yang mampu menahan rasa kantuk berhari-hari demi sebuah maket. aku tau sayangmu begitu besar, aku tau pengorbananmu begitu banyak, aku tau... aku tau kamu butuh aku di sampingmu. tapi taukah kamu, aku pun butuh kamu yang setia menunggu dan menyemangatiku?

kini sudah terlambat, amat terlambat untuk kata 'maaf'. dari siapapun kata itu terlontar, hanya sebagai ucapan yang tak membuahkan hasil.
maaf bukan awal selesainya masalah. bukan juga akhir dari masalah. maaf menandakan sebuah proses, dimana orang yang melontarkan kata itu telah mencoba membenahi diri.
namun ketika maaf itu ditepis dan dibuang begitu jauh dari hadapan, pembenahan diri itu gagal total! menjadi terasingkan dalam keadaan gelap gulita dan kesendirian yang begitu dalam.

air mata boleh jatuh, tapi kakiku kan tetap melangkah. air mata boleh berceceran, tapi prestasiku kan tetap meningkat. awan boleh mendung segelap-gelapnya, hujan boleh turun sederas-deraasnya, guruh boleh menggelegar sehebat-hebatnya. aku tidak takut tuk terus melangkah!
sendiri bukan berarti kesepian. sendiri bukan berarti tak ada teman. sendiri bukan berarti aku tak mampu jika tak bersamamu...
sendiri berarti aku menepati janji ku, janji kami...

sampai saatnya cahaya terang itu muncul kembali...aku akan setia pada janjiku, janji kami...