justru...
aku menangis sewaktu harus pulang ke semarang untuk mengucapkan selamat jalan untuk mami. aku menangis sewaktu harus melihatnya tidur dalam kotak itu. aku menangis sewaktu harus mengelus wajahnya yang dingin dan kaku. aku menangis sewaktu Pastor mengatakan kebaikan mami. aku menangis sewaktu melihat papi menyembunyikan kesedihan dibalik tawanya dengan teman-teman pramukanya. aku menangis sewaktu melihat adikku yang harus berangkat ujian tanpa susu buatan mami. aku menangis sewaktu melihat papi tidur sendiri malam itu. aku menangis sewaktu papi menceritakan kisah romantisnya selama 21 tahun bersama cinta sejatinya. aku menangis sewaktu papi menyemangatiku untuk belajar. aku menangis sewaktu papi mendoakanku untuk sukses ujian. aku menangis sewaktu melihat papi menyemangati dirinya sendiri. aku menangis sewaktu harus pulang lagi ke semarang tanpa mami yang menjemputku di simpang lima.
aku menangisi diriku sendiri saat menulis postingan ini. menangisi diriku yang tidak pernah menyatakan sayangku ke mami dengan kata-kata, bahkan sampai raga mami menjadi abu.
aku menangisi diriku sendiri karena tidak bisa menangis pada orang lain.
aku menangisi diriku sendiri karena bahkan tidak bisa menangis pada pacarku yang kuanggap cinta sejatiku.
aku menangisi diriku sendiri sampai ia merasa tidak dianggap.
aku benci berbagi kesedihan.
tulisan ini bukan untuk membagi kesedihanku. ini hanya catatan yang kubuat dengan emosi.
maaf mam.. maaf pap.. banyak yang harusnya mami papi tahu tapi tidak pernah aku ceritakan.
sebenarnya aku sudah merancang banyak cerita untuk mami saat aku pulang liburan uas, tapi semua sudah hilang. aku yakin mami sudah tahu semuanya dari sana. aku bahkan merasaa mami masih melindungiku.
maaf de.. maaf cici tidak bisa jadi mami. maaf cici tidak bisa jadi kakak yang baik. maaf cici tidak bisa menemani dede belajar untuk ujian akhir. cici yakin dede bisa. yakinlah mami merestui dede.

maaf co.. maaf aku tidak bisa menumpahkan air mataku di pelukanmu. itu akan membuat aku makin merasa bersalah. maaf aku tidak pernah menuangkan isi hatiku. tapi percayalah, aku akan dampingi kamu sampai akhir hidupku, seperti mami...

